Login Accedi ^
Italiano
Registrati
Registrati su Weekeep! Trova i tuoi amici di Facebook, organizza i tuoi viaggi e visita oltre 1.000.000 eventi in tutto il mondo!
Accedi con Facebook
Accedi con Google+
Facebook Google+
X
RISULTATI
MAPPA
DETTAGLIO
$mapTile_Titolo
$mapTile_Immagine
$mapTile_Indirizzo
$mapTile_LastMinute
$mapTile_Durata
Località
Dormire
Mangiare
Offerte Speciali
Eventi
Mostra tutte le 7 categorieMostra meno categorie
Mostra tutte le 11 LOCALITAMostra meno località
Mostra tutte le 23 sistemazioniMostra meno sistemazioni
PREZZO : da € a
OSPITI :
CAMERE :
STELLE : da a
Mostra tutte le 13 categorieMostra meno categorie
Mostra tutte le 13 categorieMostra meno categorie

"XXY" Photography and Experimental Fashion

ViaVia Jogja Jalan Prawirotaman, Yogyakarta, Indonesia
Google+

“XXY”
Sebuah Kolaborasi antara Mie Cornoedus, Tamara Pertamina
dan We Are Human Project
5-15 Juni 2014 |Pembukaan: Kamis, 5 Juni 2014 , Pukul 19.30
Diskusi: Jumat, 6 Juni, Pukul 16.00
ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
Dalam pameran ini Mie Cornoedus, seorang seniman fotografi berkewarganegaraan Belgia yang sudah belasan tahun tinggal dan berkarya di Jogjakarta berkolaborasi dengan Tamara Pertamina, seniman, aktivis sosial dan Waria (Wanita Pria). Mereka memilih tema XXY sebagai kepedulian mereka akan kaum Waria, yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai sampah masyarakat dan lekat dengan image yang negative. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menyoal sosok seorang Tamara Pertamina, namun juga menampilkan sisi lain Tamara sebagai seorang seniman yang mampu mengolah material yang dianggap sampah menjadi suatu karya seni yang lain daripada yang lain. Sama halnya akan usaha untuk menjadikan waria sebagai manusia yang berprestasi dan tidak berbeda dengan manusia lainnya, apapun jenis kelamin mereka.
Siapakah Tamara Pertamina? Ia terlahir sebagai laki-laki dengan nama Adam Muloh. Tamara adalah Tamara, ia tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai salah satu gender tertentu. Ia masih memiliki penis, tidak memiliki vagina dan payudara. Ia tidak mempermasalahkan pandangan masyarakat yang menilai dirinya sebagai waria/banci, baginya yang terpenting adalah melakukan hal-hal positif yang ia bisa dan berguna.
Karya Mie memperlihatkan sifat politis Tamara, seorang seniman, aktivis sosial dan Waria (Wanita Pria), yang terlahir sebagai laki-laki yang diidentifikasikan sebagai perempuan, di Jogjakarta. Definisi sosial, budaya dan politik mengenai apa yang dimaksud laki-laki dan perempuan tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami. Segera setelah kelahirannya, jenis kelaminnya didaftarkan sebagai laki-laki, dan untuk selamanya ia terjebak dengan sertifikat kelahiran yang tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan di dalam dirinya. Sertifikat kelahirannya adalah kunci untuk mendapatkan kewarganegaraan dan pemenuhan hak asasi manusia. Pada karya ini Garuda merepresentasikan Pancasila, yang menjanjikan kebebasan dan demokrasi untuk semua, tapi apakah itu berlaku untuk Tamara? Apakah Garuda adalah protektor yang membantunya terbang ataukah predator yang mengancamnya dari belakang?
Tamara mempunyai pilihan untuk menahan diri dan menjalani hidupnya sebagai laki-laki, tapi dengan resiko kehilangan kebahagiaan dan harga diri. Karena itu, Tamara dan waria lainnya membuat strategi untuk hidup jujur pada diri sendiri. Ada beberapa waria yang tak terlihat ke laki-lakiannya ketika mereka berbaur sepenuhnya dalam dunia perempuan, mungkin tanpa lingkungan mereka tahu jenis kelamin mereka. Lainnya mengalami pergeseran diantara maskulin dan feminine tergantung pada situasi dan konteks yang dihadapi.
Foto ini memperlihatkan bagaimana Tamara mentransformasikan diri secara fisik dan sosial tergantung pada dimana ia berada. Dia tidak terlalu menarik perhatian karena memakai jeans dan menggunakan make up yang tidak berlebihan. Sosok androgini tidak mengejutkan lagi ketika ia berjalan-jalan sementara pada saat yang sama masih mempertahankan integritas diri. (Foto 2)


Selama liburan, dia menjaga hubungan baik dengan keluarganya dan komunitas lokal di kampung halamannya, namun dalam kondisi dimana ia berpakaian seperti laki-laki dan menjalankan kewajiban sebagai seorang laki-laki muslim. Dia merasa itu sesuatu yang palsu, dan dia merasa sedih mengetahui bahwa orang terdekatnya, keluarganya, mungkin tidak akan pernah tahu dan menerima siapa dia sesungguhnya. (Foto 1)
Teman-teman waria nya adalah pendukungnya. Bersama mereka dia bisa mengekspresikan dirinya secara total, memakai sepatu dan gaun yang paling spektakuler. Dia merasa paling glamour dan ‘cucok’, menjadi apa yang ia inginkan meskipun mendapatkan penolakan dari tokoh agama, pemerintah, polisi, keluarga dan teman-temannya. (Foto 3)
Sementara Mie asyik mengeksplorasi sosok Tamara yang diekspresikan melalui media fotografi , Tamara sendiri tertarik mengeksplorasi media plastik dan material yang merupakan hasil daur ulang untuk dijadikan kostum yang juga dipakai mereka dalam performance. Mengapa plastik dan membuat kostum? Ia melihat ada suatu hubungan antara material plastic dengan waria. Plastik biasa digunakan sebagai pembungkus, bukan sesuatu yang alami dan real, bisa didaur ulang, plastic juga adalah sampah.
Ia melihat dirinya dan juga waria lain tidak dapat mengekspresikan dirinya seperti yang mereka inginkan ketika berada di lingkungan masyarakat heterogen maupun di keluarga, karena itulah mereka ‘membungkus’ diri menjadi seseorang yang dianggap ‘normal’ dalam tatanan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Sampah juga image yang biasa diberikan oleh masyarakat kepada waria sebagai sampah masyarakat. Waria (Wanita Pria) juga banyak yang menambahkan/mengubah bentuk tubuhnya dengan cara operasi plastic yang juga membuat mereka dianggap tidak lagi menjadi manusia yang asli/alami.
Tamara sendiri memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia fashion, ia biasa membuat desain kostum, baik untuk ia dan teman-temannya kenakan untuk show mereka, ataupun sebagai sebuah karya seni yang berdiri sendiri. Ia membuat kostum dengan menggunakan material plastic dan tali raffia, dengan bentuk-bentuk yang imajinatif. Ada pula kostum yang dibuat secara dua sisi (depan-belakang), sisi depan berupa kostum untuk perempuan, sementara di sisi belakang adalah kostum untuk laki-laki, ini merupakan ungkapan simbolis dari Tamara yang merasakan bahwa dirinya dan waria lainnya memiliki dua sisi, dua dunia, kadang menjadi perempuan sesuai keinginan hati namun kadang harus menjadi laki-laki karena tuntutan social di masyarakat, hanya mereka yang tahu kapan salah satu sisi tersebut dikeluarkan.
Melalui pameran ini Tamara ingin menunjukkan pada waria-waria lain khususnya, dan masyarakat pada umumnya, bahwa sesuatu yang dianggap sampah bisa dirubah menjadi suatu hal yang berguna, dalam hal ini menjadi karya seni maupun benda yang bisa dipakai. Ia berusaha mengingatkan teman-teman waria nya bahwa mereka bisa melakukan perubahan pada dirinya sendiri untuk menjadi sesuatu yang lebih baik, dengan cara berprestasi dan melakukan hal-hal yang lebih positif. Ia percaya ketika manusia melakukan hal positif, apapun label mereka, waria, lesbian, gay, atau apapun itu, masyarakat pasti akan mampu melihat dan menerima mereka dengan sudut pandang positif juga.
Ada sebuah karya interaktif dalam pameran ini, pengunjung bisa berfoto dengan instalasi patung Garuda. Foto mereka dapat langsung dicetak dan turut dipamerkan sehingga tercipta interaksi antara pengunjung dan seniman. Pada pembukaan pameran juga akan ada penampilan dari teman-teman waria anggota We Are Human Project, sebuah proyek yang diinisiatori pula oleh Tamara dan didukung penuh oleh ViaVia Jogja.
We Are Human Project adalah wadah untuk menyuarakan identitas sebagai manusia, bukan cap atau label yang diberikan oleh masyarakat seperti label Gay, Lesbi, Waria dan lain sebagainya. Tak hanya memperjuangkan manusia sebagai Identitas, We Are Human Project juga mencoba memfasilitasi ruang untuk berkarya dan explorasi diri dengan harapan bisa menjadi alternatif ekonomi lain, karena sasaran We Are Human Project adalah pada individu atau kelompok masyarakat yang diminoritaskan serta kondisi ekonomi yang sangat rendah. Sejauh ini pergerakan We Are Human di support oleh PT. ViaVia, ViaVia Resto memberikan tempat pada komunitas pekerja seks dan pengamen jalanan yang bermasalah dengan pemerintah untuk membuat pertunjukkan serta mendapat bayaran atas pertunjukkannya. Selain itu ViaVia Shop Corner juga memberikan space bagi komunitas yang produktif membuat hand made dan layak untuk dijual.
We Are Human memiliki cita-cita untuk membangun sebuah gedung yang bisa menjadi tempat tinggal yang membutuhkan dan menjadi tempat berkarya serta mengekspresikan diri setiap orang.
Untuk Info lebih lanjut dan minat karya, hubungi:
Rennie “EmonK” | 081802221882|semanismadu@gmail.com|viaviajogja.com

“XXY”
A Collaboration between Mie Cornoedus, Tamara Pertamina
Feat. We Are Human Project
June 5-15, 2014 |Opening: Thursday, June 5, 2014, 7.30 p.m
Discussion: Friday, June 6, 4.00 p.m
ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
This exhibition is a collaboration between Mie Cornoedus, a Belgian photographer, who has lived in Indonesia for nearly 20 years, and Tamara Pertamina, an artist, social activist and transgendered woman (waria). The title of their exhibition is XXY, which is an expression of their support to the waria, who are largely seen as the garbage of society. The work does not only show the struggles of Tamara Pertamina, but also her strengths as an artist with the power to transform garbage into a different kind of art. The process mirrors how we can transform the image of the waria as a human being with skills and strengths, not different from other humans, regardless of gender.
Who is Tamara Pertamina? She was born a boy with the name Adam Mulokh. Tamara is Tamara, she does not identify as any specific gender. She still has a penis, not a vagina and breasts. She does not challenge the view of the community that see her as a waria/banci. For her, the most important is to do positive and useful things.
Mie’s work shows the political nature of Tamara, an artist, social activist and waria (wanita-pria), a biological boy, who identifies as a girl, in Jogjakarta. The social, cultural and political definitions of what it means to be male and female do not fit her reality. Her biological sex was immediately, right after birth, registered by the state, and forever after she is stuck with a birth certificate that doesn’t match who she really is on the inside. That same document holds the key to her ability to obtain a nationality and fulfillment of human rights. The Pancasila represented in this work by the Garuda, holds a promise of freedom and democracy for all. What sources of power does the Garuda offer Tamara? Is the Garuda her protector that helps her fly, or is it the fierce predator threatening to attack her from behind?
Tamara has a choice to suppress herself and let her exterior boy live her life for her, however not without the risk of strangling all hope of happiness and dignity. Consequently, Tamara and other warias develop strategies for how to live in truth and sincerity. Some waria become invisible when they fully blend into their desired gender, maybe without their environment knowing their biological sex. Others slide on a scale between the masculine and the feminine depending on situation and context.
These photographs show how Tamara reinvents herself physically and socially on a daily basis depending on where she has to be. She mostly aims to draw little attention to herself by wearing jeans and minimal make up. An androgynous look raises few eyebrows as she ventures out on the streets while at the same time preserving a sense of self. (photo 2)
During holidays, she maintains relations with her family and local community, but on the condition that she dresses like a boy and upholds her duties as a Muslim man. She feels like an impostor, and she lives with the sadness knowing that the most important people in her life, her family, may never know and accept who she really is. (photo 1)
Her girlfriends are her support. With them she can take it all out, put on her most spectacular shoes and dresses and feel fabulous, gorgeous and free, and be who she wants to be despite condemnation from religious scholars, government officials, the police, her family and her friends. (photo 3)
While Mie enjoys exploring the different forms of Tamara through her photography, Tamara is interested in turning plastic and recycled materials into clothing that the waria from the Human Project will wear during their performance. Tamara sees a link between plastic and the waria. Plastic is a wrapping material, unnatural and unreal, it can be transformed, and plastic is also garbage. The waria cannot express themselves freely when operate within the heterogeneous society, including their families. Because of that they “wrap themselves” to be seen as “normal” according to mainstream norms. Garbage is the value given to them from the community. Some Waria also alter their bodies with plastic surgery turning themselves into unnatural/unreal people.
Tamara is interested in the fashion world, and she often designs clothes for herself and her friends for their shows, but also as independent artwork. She designs clothes from plastic and raffia, with imaginary shapes. She also plays with two sided clothes, where the front is woman’s clothing and the back designed for men. This symbolizes the two worlds of Tamara and other waria: sometimes as women in line with their hearts, and other times forced to be men due to social pressure from the community. Only they know when they have to bring out one side or the other.
In this exhibition, Tamara wants to show other waria and the community that garbage can transform into something useful, in this case art and clothing. She wants to remind her friends that they can change to become better through self-expression and positive activities. She believes that when people do positive things, whatever label is given to them, waria, lesbian, gay or other, the community will see and accept them.
There is an interactive work too at this exhibition. Visitors can take a photo with the Garuda installation. The photo will be printed and displayed to create interaction between the artists and the audience. At the opening, there will also be a performance by the warias from the We Are Human Project, which has been initiated also by Tamara and supported by ViaVia Jogja.
The We Are Human Project is a platform to express a human identity without stamps and labels given by the community, like gay, lesbian, waria and other. The project also aims to give space for self-exploration and to open space for an alternative economy for an economically marginal group. So far We Are Human is supported by ViaVia Jogja. The Restaurant gives space for sex workers and street musicians in trouble with the government to perform and have an income. In addition, The ViaVia Fair Trade Shop sells their handmade products.
We Are Human dreams about having a building for people, who need a place to stay, work and express themselves.
If you are interested to buy or to know more information about the artwork , please contact:
Rennie “EmonK” | 081802221882|semanismadu@gmail.com|viaviajogja.com

Veniteci a trovare
dal 5 al 15 giugno 2014

Che Tempo fa

Recensioni

Caricamento...
Caricamento...
In questa zona i nostri Partner offrono: